![]() |
“Usaha-Usaha Pembentukan Gerakan Buruh Progresif Revolusioner”
Tumbangnya
rezim Militeristik Orde Baru-Soeharto 1998 menghasilkan reformasi yaitu
terdapat beberapa perubahan-perubahan ekonomi politik, akan tetapi reformasi
’98 bukan suatu perubahan mendasar yang mengubah ekonomi politik secara
mendasar (Radikal) karenanya tata ekonomi politik sesungguhnya masih
mempertahankan tatanan lama prinsipnya tidak menghilangkan penghisapan atau
eksploitasi di semua sektor kehidupan massa rakyat, terbukti massa rakyat-kaum
Tani, Buruh dan rakyat miskin lainnya masih menjadi korban kebijakan ekonomi
politik negara.
Terlepas
ketidakberhasilan reformasi ’98 memberikan manfaat bagi massa rakyat seperti
sedikit terbukanya kran demokrasi yang sedikit memberikan keleluasaan bagi
rakyat untuk melakukan aktivitas-aktivitas politik yang sebelumnya tidak pernah
didapatkan, meskipun demokrasi tersebut tetap terbatas pada hubungan uang
belaka-Demokorasi Liberal, sehingga demokrasi itu tidak menjamin kemerdekaan
rakyat secara penuh.
Reformasi
dimanfaatkan para elit-elit politik negeri ini watak yang sama dengan rezim
sebelumnya untuk
mendirikan partai politik sehingga begitu banyak partai politik yang bermunculan bak jamur dimusin hujan. Dalam Perkembangannya dan kenyataan praktiknya kemunculan banyaknya partai politik atauapun partai politik yang mengaku telah berubah tetap saja tidak mampu menjawab kesejahteraan, keadilan bagi klas buruh.Bahkan mereka elit-elit politikdiberbagai partai politik hanya sibuk memperkaya diri, memperoleh serta mempertahankan kekuasaannya.
mendirikan partai politik sehingga begitu banyak partai politik yang bermunculan bak jamur dimusin hujan. Dalam Perkembangannya dan kenyataan praktiknya kemunculan banyaknya partai politik atauapun partai politik yang mengaku telah berubah tetap saja tidak mampu menjawab kesejahteraan, keadilan bagi klas buruh.Bahkan mereka elit-elit politikdiberbagai partai politik hanya sibuk memperkaya diri, memperoleh serta mempertahankan kekuasaannya.
Segi
Ekonomi dan Politik pasca reformasi prinsipnya tersimpulkan bahwa klas pemodal
(kapitalisme) tetap berkuasa berselimutkan reformasi, mengilusikan
kesejahteraan rakyat. Sementara penguasa tetap menjadi alat untuk menjawab
kepentingan-kepentingan para tuan modal singkatnya klas pemodal bersama
penguasa dengan bungkusan karakter moralis mereka tetap mengkhotbahkan
kapitalisme sebagai jalan keluar yang menghalalkan penghisapan manusia atas
manusia.
Sedangkan
rakyat dari situasi itu terus bergerak membangun, memajukan-kuantitas kualitas
gerakannya tersebar diberbagai sektor seperti gerakan tani, gerakan buruh,
gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat lainnya. Reformasi merupakan titik awal
gerakan rakyat secara terbuka melakukan perjuangan menuntut perbaikan hidup
yang lebih baik. Gerakan buruh begitu berani secara terbuka menuntut
kesejahteraan dari level pabrik hingga Istana Negara, Gerakan Tani begitu berani menuntut reforma
agraria, sama halnya dengan geakan sektor lainnya. Bahwa kesadaran akan
pentingnya kemerdekaan sejatinya, pentingnya kesejahteraan sudah terbangun
kembali sejak selama 32 tahun diktator Soeharto mendoktrin kesadaran rakyat.
Sejarah Singkat FPBI
Bagi
gerakan Buruh ditengah-tengah belum adanya gerakan buruh alternatif yang
sejatinya membawa klas buruh pada kemerdekaan sebenarnya reformasi ’98 merupakan
peluang munculnya gerakan-gerakan alternatif yang berbeda dari gerakan buruh
sebelumnya. Maka banyak sekali muncul gerakan buruh baru, mulai dari lahir
karena perpecahan sampai pada kemunculan gerakan buruh yang murni lahir dari
pembangunan awal (mulai dari titik Nol).
Mulai dari watak konservatif hingga watak progresif Revolusioner, Mulai dari
gerakan bersifat ekonomistik hingga bersifat politis. Demikianlah gerakan buruh
dalam demokrasi liberal terus berproses melakukan perjuangan, saling memberikan
pengaruh terhadap seluruh buruh Indonesia maupun rakyat pada umumnya terlepas
dari kepentingan masing-masing gerakan buruh.
Peluang atas situasi dan kadar kekuatan yang dimiliki
beberapa buruh berkesadaran maju seperti Helmi Yadi dan buruh lainnya bersama
beberapa tokoh eks ’98 seperti Eli Salomo, Ganto Alamansyah, John Silaban dan
lainnya yang tergabung dalam KAB (Komunitas Advokasi Buruh) Pada tahun 2002 awal tonggak sejarah cikal bakal lahirnya
FPBI yang di awali terbentuknya Organisasi Buruh Sintertech Indonesia (OBSI)
PT. SINTERTECH yang beralamat di kawasan indrustri JABABEKA blok J M dan
kawan-kawan melaksanakan kongres pertamanya pada tanggal 07 juli 2002 di
cikarang dihadiri hampir oleh semua buruh yang bekerja di PT.SINTERTECH dan
dihadiri oleh undangan sekaligus yang mengawal lahirnya OBSI yaitu dari
Komunitas Advokasi Buruh (KAB), Lahirnya OBSI di dasari satu persoalan yang
sama tentang hak-hak ormative terutama persoalan JAMSOSTEK yang tidak pernah di
bayarkan oleh pihak perusahaan.
seiring berjalannya waktu kawan-kawan mulai menyadari bahwa
yang menjadi persoalan buruh adalah terletak pada produk kebijakan
Undang-undang atau peraturan lainnya yang tidak berpihak pada buruh karena
seberapa kuatnya pun serikat yang kuat di dalam pabrik akan tidak berarti
apa-apa selama produk hukum dan kebijakan pemerintah belum sepenuhnya membela
kepentingan kaum buruh. Dari dasar itu kawan-kawan yang tergabung dalam OBSI
memutuskan untuk mengajak kawan-kawan yang ada di sekitar pabrik mereka untuk
segera membuat organisasi buruh yang berfungsi sebagai pembalaan sebagai
hak-hak buruh sekaligus sebagai tempat belajar bersama.
Tepat pada tahun 2004 terbentuklah organisasi buruh NIC
INDONESIA (OBNI) persis di samping PT. SINTERTECH tapi dalam perjalanannya
kawan-kawan buruh PT.NIC tidak sanggup menjalankan organisasi sebagai
mana mestinya pengurus tidak sanggup menahan gempuran dari manajemen melalui
intimidasi salah atunya dengan cara pemberian jabatan dan yang tidak mau
ditawari pensiun dini dengan tawaran 2 PMTK sampai hari ini organisasi sudah
tidak berjalan sementara perusahaannya berdiri dengan megah dan sudah meakukan
ekspansi.
Melihat kegagalan di PT.NIC menjadi bahan evaluasi bersama
antara KAB dan OBSI untuk melakukan pengorganisiran dan pada bulan Februari
2005 terbentukalah Serikat Buruh Madusari Bersatu (SBMB) lalu di susul lagi
oleh serikat buruh Mitratama (OBM). Ketiga oraganisasi nin sering melakuakan
pendiskusian hak-hak nor,ative sampai adanya keinginan bersama untuk membentuk
organisasi bersama-sama yang bersifat federasi , keinginan muncul bukan
semata-mata gagah-gagahan tapi di dasari satu pembacaan situasi yang cukup alot
dan panjang dari mulai persoalan Serikat Buruh yang ada belum mampu melakukan
kerja-kerja sebangai mana semestinya Serikat Buruh sehingga di butuhkan satu
oraganisasi yang baru u8ntuk mewadahi kawan-kawan yang belum berserikat.
Bahwa melihat kenyataan organisasi ini belum cukup memenuhi
syarat federasi ysitu lims organisasi tingkat pabrik maka bersepakat membuat
Forum Komunikasi Buruh cikarang (FKBC) yang pembentukannya di kordinasi oleh
kawan Hadi Supristna dari SBMB, kerja pertama Forum Komunikasi Buruh Cikarang
membuat agenda pelatiha tentang ber-acara di persidangan dan mengundang
Serikat-serikat Buruh tingkat pabrik dan salah satu yang hadir adalah Serikat
Pekerja PT.KYOWA Indonesia dan PT.UNIPACK Indonesia (SSBUI) Solidaritas Serikat
Buruh Unipack Indonesia.dll
Dan dalam perjalananya SPKYI bergabung dengan FKBC setelah
pendidikan dan diskusi tenntang hak-hak normative buruh, pada awall
keberadaanya FKBC dihadapkan pada satu persoalan yang sangat
menghawatirkan bagi kehidupan kaum buruh di tengah ke tidak pastian kerja, jam
kerja,jaminan kesehatan, kesejahteraan, yang tidak di berikan perusahaan
padahal Negara telah mengatur dalam UU 13 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan,
tapi pemerintahan menutup mata akan hal, dan pelangggaran yang dilakukan oleh
para Pengusaha/ kaum kapitalis yang menghamba pada sytem Kapitalisme dan
pemerintahan sudah mengeluarkan watak aslinya dengan revisi undang-undang 13
tahun 2003 dan rencana revisi akhirnya mampu di gagalakan oleh kekuatan kaum
buruh, pada saat itu FKBC tergabung dalam Aliansi Buruh Menggugat (ABM) dalam
menyuarakan penolakan revisi undang-undang 23 tahun 2003, Semenjak itu FKBC
semakin yakin akan kekuatan buruh akan merubah segalanya dari hal yang tadinya
tidak mungkin menjadi mungkin . Kepercayaan diri FKBC yang masih kecil akan
tidak berarti apa-apa tanpa segera membangun kekuatan dengan memperbanyak
anggota, lalu menjalin kontak dengan kawan buruh CV JAYA ABADI yang
ber-alamat di jakarta dan mereka bersepakat akan satu kebutuhan bersama
mengenai organisasi yang berbentuk Federasi.
Akhirnya dalam kongres pertama FKBC pada tanggal 16-17 september 2006 di
kota sejarah rengas dengklok-Karawang yang melahirkan nama Federasi Perjuangan
Buruh Jabodetabek (FPBJ) dengan ketua
terpilih Helmi Yadi dan Sekjend Ganto Almansyah. Disnaker Kab Bekasi No Pencatatan :
705/CTT.250/I/2008 Kesekretariatan di JL. Raya Fatahilah Rt. 002/04 No 24
Kampung Pengkolan, Desa Kali Jaya Kabupaten Bekasi.yang bertujuan
melindungi kaum buruh dari cengkraman KAPITALISME dan sebagai alat perjuangan
kaum buruh dalam merebut hak-haknya, kata jabodetabek dipilih karena kita sadar
bahwa anggota masih berada di lingkup jabodetabek.
Perkembangan FPBJ yang cukup berkualitas sifatnya tidaklah
terlepas dari keterlibatan aktif semua anggota yang tergabung di dalamnya dan
juga keterlibatan FPBJ di dalam persatuan meskipun pembangunan persatuan
tersebut tidak selalu lurus tumbuh besar tapi diakui secara jujur persatuan
tersebut juga patah tumbuh. Sama halnya dengan setiap perjuangan yang dilakukan
tidak selalu lurus mencapai kemenangan sebagimana yang diharapkan tapi juga
kadang tidak sesuai dengan harapan alias kalah. Demikianlah perjuangan
sesungguuhnya sebuah proses menuju perbaikan hidup lebih baik, hidup sejahtera
melawan sistem penghisapan manusia atas manusia dan di dalamnya terdapat sisi
menang dan kalah tapi bagi setiap yang menginginkan penghapusan penghisapan
hanya kemenangan yang diyakini.
Keadaan terus berubah dan berkembang, satu sisi kapitalisme sebagai
sebuah sistem terus melakukan perluasan pasar, perluasan produksi, terus
melakukan eksploitasi atas sumber daya alam dan sumber Daya Manusia
(tenaga-tenaga produktif), terus melakukan akumulasi keuntungan
sebesar-besarnya tanpa belas kasihan disetiap waktu dan disetiap tempat. Disisi
yang lain negaa dengan segala perangkat kekuasaannya terus bekerja keras
memperlancarkan berjalannya sirkulasi modal demi kesejahteraan, demi kebahagian
para tuannya-para pengusaha. Negara tidaklah lebih sebuah alat yang berfungsi
untuk melayani kepentingan-kepentingan umum kaum borjuasi/pengusaha/klas
pemodal, sehingga mereka (pengusaha&penguasa) terus menghegemoni rakyat,
mengilusi kesadaran rakyat untuk tetap mengamini kapitalisme sebagai jalan
keluar menuju kemajuan bangsa, jalan keluar menuju kesejahteraan rakyat.
Padahal pada faktanya sejak kelahiran hingga pada fase perkembangan terkininya
kapitalisme terus menimbulkan kekacauan sosial ekonomi politik, terus
menimbulkan penderitaan bagi rakyat singkat katanya sama sekali tidak
menghilangkan penghisan, penindasan manusia atas manusia justru semakin
terlihat jelas jurang antara si kaya dan si miskin-klas berpunya dan klas tidak
berpunya.
Dan krisis kapitalisme hari inipun semakin memperjelas bukti
bahwa kapitalisme sesungguhnya bukanlah jalan keluar kesejahteraan klas tidak
berpunya (kaum miskin). Disamping itu juga krisis tersebut semakin memperjelas
watak rezim borjuasi-legislatif, ekskutif dan yudikatif sibuk bekerja
menyelamatkan krisis mulai dari pembentukan hukum hingga menggunakan perangkat
kekerasan negara. Maka tidaklah heran dari pusat sampai diberbagai daerah
terjadi perampasan tanah dengan cara kekerasan terhadap para petani miskin,
terjadi kekerasan terhadap kaum buruh, terjadi korupsi, lahirnya kebijakan-kebijakan
anti rakyat dsb.
Berdasarkan situasi obyektif tersebut dan situasi internal
organisasi FPBJ yang juga mengalami perkembangan menjadi titik pijakan bagi
organisasi untuk memajukan kuantitas dan kualitas organisasi. Bahwa
meningkatkan kualitas perlawanan disemua sektor menjadi kebutuhan mendesak,
jika tidak demikian maka sejengkalpun tidak merubah keadaan menghisap itu dan
gerakan-gerakan tersebut akan jalan ditempat seperti gerak mekanik yang
berulang-ulang.
Dalam perjalanan nya Federasi Perjuangan Buruh jabodetabek
(FPBI), di kongres yang ke dua pada tanggal 09-10 Oktober 2009 yang bertempat di Parung – Bogor ,pada
Kongres kedua terpilih kawan Sopyandri dari PTP Unipak sebagai ketua umum dan
kawan Damar Panca Mulya sebagi sekjen selain dari pada itu telah diputuskan
secra bersama, dengan melihat
perkembangan KAPITALISME semakin masif menindas kaum buruh di mana pun kita
berada dan bekerja maka di putuskan untuk segera membangun federasi
Nasional (FEDNAS) dan ini menjadi tugas sejarah semua anggota FPBJ
Setelah Kongres II di Parung Bogor perkembangan organisasi
semakin massif dalam melakukan pengorganisiran maupun aksi-aksi yang dilakukan
untuk menolak liberalisasi di Indonesia, meskipun kita sama-sama mengetahui
pada periode ini ketua umum kawan Sopyandri tidak begitu aktif menjalankan
organisasi dikarenakan telah terjadi PHK di PT Unipak yang menurunkan semangat
kawan-kawan didalamnya termasuk kawan Sopyandri.
Pada periode ini bukan saja penambahan anggota yang sangat
signifikan diiringi kerja-kerja idologisasi pun sangat massif,hamper setiap
mengadakan pendidikan tidak kurang dari 100 orang anggota terlibat setiap
pelatihan tahaf satu ,sehinga kerja-kerja organisasi sangat terbantu oleh
kawan-kawan di PTP baik dalam hal pengorganisiran maupun diskusi-diskusi.
Pada tahun 2011 menjadi catatan sejarah buat FPBJ organisasi
yang baru tumbuh tapi sudah mampu memberikan warna gerakan buruh di Indonesia
terutama di Bekasi, dengan membangun aliansi dengan Gesburi guna
mengkonsolidasikan gagasan selain perjuangan normative buruh lewat KPGB (komite
pendidikan gerakan buruh) walaupun pada akhirnya kedua organisasi ini tidak
dapat dipersatukan.
Penambahan anggota dengan pendudukan pabrik sangat
menginpirasi buruh disekitar pabrik untuk membangun serikat buruh dipabriknya,
bahkan FPBJ mendapatkan efek domino dari kejadian tersebut, missal dengan
melakukan pendudukan pabrik PT. Byungha Indonesia pada akhir 2011 sampai dengan
awal 2012 hampir tidak pernah sepi kaum buruh untuk berdiskusi memecahkan
persoalan dipabrik.
Masifnya perjuangan kaum buruh dalam mennutut hak-haknya
diiringi juga dengan meningkatnya perlawanan pengusaha terhadap perjuangan kaum
buruh, mereka tidak saja mengunakan kekuatan TNI/POLRI tapi juga mengunakan
ormas-ormas dengan mengatasnamakan warga sekitar menyerang bahkan melukai buruh
yang sedang berjuang.
Ditengah situasi yang
sedang terjadi serangan balik oleh pengusaha terhadap kaum buruh yang sedang
berjuang FPBJ punya agenda besar yaitu KONGRES ke III dengan tema Belajar,
Berjuang, Berkuasa. maka pada tanggal 11- 13 Januari 2013 yang bertempat di
Cibodas - Puncak dan dihadiri dari beberapa perwakilan daerah diantaranya; Medan,
Surabaya, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Semarang dan Jogja bersepakat melakukan
perubahan bentuk dan isian organisasi yaitu FPBJ berubah menjadi FPBI (Federasi
Perjuangan Buruh Indonesia) dan terpilih Santoso widodo sebagai Ketua Umum dan John
Oktavianus silaban sebagi Sekjen ). Selain itu Kongres III
FPBJ sudah mampu merumuskan beberapa hal diantaranya :
1.
Menetapkan Garis Politik FPBI :
§ anti
kapitallisme
§ Berbasiskan
pada gerakan massa
§ Memperjuangan
sosial ekonomi politik massa
§ Tidak
bersekutu dengan partai-partai borjuasi tapi bersatu dengan sekutu strategis
dengan klas tertindas.
2.
AD/ART (Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga) FPBI termasuk di
dalamnya terumuskan visi&misi.
A. Visi :
1.
Mempersatukan dan memperjuangkan
kepentingan ekonomi dan politik kaum buruh di indonesia untuk mencapai
kesejahteraan dan menghadapi semua bentuk penindasan.
2.
Memperjuangkan kesejahteraan buruh
dan keluarganya.
3.
Melindungi kepentingan kaum buruh
dari sistem kapitalisme.
B. Misi :
1.
Terlibat aktif dalam perjuangan
kaum buruh melawan kekuatan anti buruh dan anti demokrasi.
2.
Aktif dalam kerja-kerja
solidaritas untuk perubahan nasib kaum buruh.
3.
Memperjuangkan hak-hak ekonomi,
politik, dan sosial kaum buruh.
4.
Mengkampanyekan dan memperjuangkan
sistem kerja yang adil, bermartabat, serta menjunjung tinggi nilai-nilai HAM.
5.
Mengkampanyekan dan memperjuangkan
serta melindungi hak-hak buruh perempuan.
6.
Membangun serikat-serikat buruh
yang sesuai dengan azas dan sifat organisasi.
3.
Program-program umum yang meliputi; pertama program pendidikan seperti melakukan pelatihan-pelatihan hukum,
teknik negosiasi, pelatihan advokasi dll. Kedua; Program-program perjuangan hak
normatif yang diatur dalam Undang-Undang
ketenagakerjaan seperti upah, jamsostek, status kerja, PKB dll. Ketiga; Program
organisasi seperti perluasan organisasi, Pembangunan persatuan, pembangunan
ekonomi berjuang secara mandiri dll.
4.
Menetapkan struktur kepengurusan harian secara demokratis
periode 2013-2015.
Bahwa terbentuknya FPBI merupakan dialektika sebagai kelanjutan
dari gerak proses yang dilakukan Federasi Perjungan Buruh Jabodetabek. Gerak
tersebut merupakan usaha-usaha membangun/membentuk gerakan buruh yang progresif
revolusioner, gerakan buruh yang tidak hanya besar secara kuantitas tapi juga
berkualitas secara isian, gerakan buruh yang tidak sekedar hanya menuntut
hak-hak normatif perburuhan tapi juga gerakan yang berwatak politik, karena
FPBI menyimpulkan pembebasan nasional dari cengkraman kapitalisme dan menuju
kemerdekaan 100% klas buruh dan massa rakyat tertindas tidak akan pernah
terwujud tanpa memperbesar kekuatan, tanpa persatuan gerakan rakyat dan tanpa
kekuasaan klas buruh. Karenanya tugas sejarah gerakan buruh sesungguhnya adalah
menghilangkan penghisapan manusia atas manusia.
Dalam kongres ke tiga menjadi bagian yang tidak terlupakan
dalam sejarah pembangunan gerakan buruh yaitu telah disepakati oleh forum
perubahan nama FPBJ menjadi FPBI karena kita sadar keanggotaan FPBJ
sudah tersebar dibeberapa kota di Indonesia.
bersambung.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar