Jumat, 02 Januari 2015

Sejarah Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI)


“Usaha-Usaha Pembentukan Gerakan Buruh Progresif Revolusioner” 
Tumbangnya rezim Militeristik Orde Baru-Soeharto 1998 menghasilkan reformasi yaitu terdapat beberapa perubahan-perubahan ekonomi politik, akan tetapi reformasi ’98 bukan suatu perubahan mendasar yang mengubah ekonomi politik secara mendasar (Radikal) karenanya tata ekonomi politik sesungguhnya masih mempertahankan tatanan lama prinsipnya tidak menghilangkan penghisapan atau eksploitasi di semua sektor kehidupan massa rakyat, terbukti massa rakyat-kaum Tani, Buruh dan rakyat miskin lainnya masih menjadi korban kebijakan ekonomi politik negara.
Terlepas ketidakberhasilan reformasi ’98 memberikan manfaat bagi massa rakyat seperti sedikit terbukanya kran demokrasi yang sedikit memberikan keleluasaan bagi rakyat untuk melakukan aktivitas-aktivitas politik yang sebelumnya tidak pernah didapatkan, meskipun demokrasi tersebut tetap terbatas pada hubungan uang belaka-Demokorasi Liberal, sehingga demokrasi itu tidak menjamin kemerdekaan rakyat secara penuh.
Reformasi dimanfaatkan para elit-elit politik negeri ini watak yang sama dengan rezim sebelumnya untuk
mendirikan partai politik sehingga begitu banyak partai politik yang bermunculan bak jamur dimusin hujan. Dalam Perkembangannya dan kenyataan praktiknya kemunculan banyaknya partai politik atauapun partai politik yang mengaku telah berubah tetap saja tidak mampu menjawab kesejahteraan, keadilan bagi klas buruh.Bahkan mereka elit-elit politikdiberbagai partai politik hanya sibuk memperkaya diri, memperoleh serta mempertahankan kekuasaannya.
Segi Ekonomi dan Politik pasca reformasi prinsipnya tersimpulkan bahwa klas pemodal (kapitalisme) tetap berkuasa berselimutkan reformasi, mengilusikan kesejahteraan rakyat. Sementara penguasa tetap menjadi alat untuk menjawab kepentingan-kepentingan para tuan modal singkatnya klas pemodal bersama penguasa dengan bungkusan karakter moralis mereka tetap mengkhotbahkan kapitalisme sebagai jalan keluar yang menghalalkan penghisapan manusia atas manusia.
Sedangkan rakyat dari situasi itu terus bergerak membangun, memajukan-kuantitas kualitas gerakannya tersebar diberbagai sektor seperti gerakan tani, gerakan buruh, gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat lainnya. Reformasi merupakan titik awal gerakan rakyat secara terbuka melakukan perjuangan menuntut perbaikan hidup yang lebih baik. Gerakan buruh begitu berani secara terbuka menuntut kesejahteraan dari level pabrik hingga Istana Negara,  Gerakan Tani begitu berani menuntut reforma agraria, sama halnya dengan geakan sektor lainnya. Bahwa kesadaran akan pentingnya kemerdekaan sejatinya, pentingnya kesejahteraan sudah terbangun kembali sejak selama 32 tahun diktator Soeharto mendoktrin kesadaran rakyat.

Sejarah Singkat FPBI
Bagi gerakan Buruh ditengah-tengah belum adanya gerakan buruh alternatif yang sejatinya membawa klas buruh pada kemerdekaan sebenarnya reformasi ’98 merupakan peluang munculnya gerakan-gerakan alternatif yang berbeda dari gerakan buruh sebelumnya. Maka banyak sekali muncul gerakan buruh baru, mulai dari lahir karena perpecahan sampai pada kemunculan gerakan buruh yang murni lahir dari pembangunan awal (mulai dari titik Nol). Mulai dari watak konservatif hingga watak progresif Revolusioner, Mulai dari gerakan bersifat ekonomistik hingga bersifat politis. Demikianlah gerakan buruh dalam demokrasi liberal terus berproses melakukan perjuangan, saling memberikan pengaruh terhadap seluruh buruh Indonesia maupun rakyat pada umumnya terlepas dari kepentingan masing-masing gerakan buruh. 
Peluang atas situasi dan kadar kekuatan yang dimiliki beberapa buruh berkesadaran maju seperti Helmi Yadi dan buruh lainnya bersama beberapa tokoh eks ’98 seperti Eli Salomo, Ganto Alamansyah, John Silaban dan lainnya yang tergabung dalam KAB (Komunitas Advokasi Buruh) Pada tahun 2002 awal tonggak sejarah cikal bakal lahirnya FPBI yang di awali terbentuknya Organisasi Buruh Sintertech Indonesia (OBSI) PT. SINTERTECH yang beralamat di kawasan indrustri JABABEKA blok J M dan kawan-kawan melaksanakan kongres pertamanya pada tanggal 07 juli 2002 di cikarang dihadiri hampir oleh semua buruh yang bekerja di PT.SINTERTECH dan dihadiri oleh undangan sekaligus yang mengawal lahirnya OBSI yaitu dari Komunitas Advokasi Buruh (KAB), Lahirnya OBSI di dasari satu persoalan yang sama tentang hak-hak ormative terutama persoalan JAMSOSTEK yang tidak pernah di bayarkan oleh pihak perusahaan.

seiring berjalannya waktu kawan-kawan mulai menyadari bahwa yang menjadi persoalan buruh adalah terletak pada produk kebijakan Undang-undang atau peraturan lainnya yang tidak berpihak pada buruh karena seberapa kuatnya pun serikat yang kuat di dalam pabrik akan tidak berarti apa-apa selama produk hukum dan kebijakan pemerintah belum sepenuhnya membela kepentingan kaum buruh. Dari dasar itu kawan-kawan yang tergabung dalam OBSI memutuskan untuk mengajak kawan-kawan yang ada di sekitar pabrik mereka untuk segera membuat organisasi buruh yang berfungsi sebagai pembalaan sebagai hak-hak buruh sekaligus sebagai tempat belajar bersama.

Tepat pada tahun 2004 terbentuklah organisasi buruh NIC INDONESIA (OBNI) persis di samping PT. SINTERTECH tapi dalam perjalanannya kawan-kawan  buruh PT.NIC tidak sanggup menjalankan organisasi sebagai mana mestinya pengurus tidak sanggup menahan gempuran dari manajemen melalui intimidasi salah atunya dengan cara pemberian jabatan dan yang tidak mau ditawari pensiun dini dengan tawaran 2 PMTK sampai hari ini organisasi sudah tidak berjalan sementara perusahaannya berdiri dengan megah dan sudah meakukan ekspansi.
Melihat kegagalan di PT.NIC menjadi bahan evaluasi bersama antara KAB dan OBSI untuk melakukan pengorganisiran dan pada bulan Februari 2005 terbentukalah Serikat Buruh Madusari Bersatu (SBMB) lalu di susul lagi oleh serikat buruh Mitratama (OBM). Ketiga oraganisasi nin sering melakuakan pendiskusian hak-hak nor,ative sampai adanya keinginan bersama untuk membentuk organisasi bersama-sama yang bersifat federasi , keinginan muncul bukan semata-mata gagah-gagahan tapi di dasari satu pembacaan situasi yang cukup alot dan panjang dari mulai persoalan Serikat Buruh yang ada belum mampu melakukan kerja-kerja sebangai mana semestinya Serikat Buruh sehingga di butuhkan satu oraganisasi yang baru u8ntuk mewadahi kawan-kawan yang belum berserikat.

Bahwa melihat kenyataan organisasi ini belum cukup memenuhi syarat federasi ysitu lims organisasi tingkat pabrik maka bersepakat membuat Forum Komunikasi Buruh cikarang (FKBC) yang pembentukannya di kordinasi oleh kawan Hadi Supristna dari SBMB, kerja pertama Forum Komunikasi Buruh Cikarang membuat agenda pelatiha tentang ber-acara di persidangan dan mengundang Serikat-serikat Buruh tingkat pabrik dan salah satu yang hadir adalah Serikat Pekerja PT.KYOWA Indonesia dan PT.UNIPACK Indonesia (SSBUI) Solidaritas Serikat Buruh Unipack Indonesia.dll

Dan dalam perjalananya SPKYI bergabung dengan FKBC setelah pendidikan dan diskusi tenntang hak-hak normative buruh, pada awall keberadaanya FKBC  dihadapkan pada satu persoalan yang sangat menghawatirkan bagi kehidupan kaum buruh di tengah ke tidak pastian kerja, jam kerja,jaminan kesehatan, kesejahteraan, yang tidak di berikan perusahaan padahal Negara telah mengatur dalam UU 13 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan, tapi pemerintahan menutup mata akan hal, dan pelangggaran yang dilakukan oleh para Pengusaha/ kaum kapitalis yang menghamba pada sytem Kapitalisme dan pemerintahan sudah mengeluarkan watak aslinya dengan revisi undang-undang 13 tahun 2003 dan rencana revisi akhirnya mampu di gagalakan oleh kekuatan kaum buruh, pada saat itu FKBC tergabung dalam Aliansi Buruh Menggugat (ABM) dalam menyuarakan penolakan revisi undang-undang 23 tahun 2003, Semenjak itu FKBC semakin yakin akan kekuatan buruh akan merubah segalanya dari hal yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin . Kepercayaan diri FKBC yang masih kecil akan tidak berarti apa-apa tanpa segera membangun kekuatan dengan memperbanyak anggota, lalu menjalin kontak dengan kawan buruh CV JAYA ABADI  yang ber-alamat di jakarta dan mereka bersepakat akan satu kebutuhan bersama mengenai organisasi yang berbentuk Federasi.

Akhirnya dalam kongres pertama FKBC pada tanggal 16-17 september 2006 di kota sejarah rengas dengklok-Karawang yang melahirkan nama Federasi Perjuangan Buruh Jabodetabek (FPBJ)  dengan ketua terpilih  Helmi Yadi dan Sekjend  Ganto Almansyah. Disnaker Kab Bekasi No Pencatatan : 705/CTT.250/I/2008 Kesekretariatan di JL. Raya Fatahilah Rt. 002/04 No 24 Kampung Pengkolan, Desa Kali Jaya Kabupaten Bekasi.yang bertujuan melindungi kaum buruh dari cengkraman KAPITALISME dan sebagai alat perjuangan kaum buruh dalam merebut hak-haknya, kata jabodetabek dipilih karena kita sadar bahwa anggota masih berada di lingkup jabodetabek.
Perkembangan FPBJ yang cukup berkualitas sifatnya tidaklah terlepas dari keterlibatan aktif semua anggota yang tergabung di dalamnya dan juga keterlibatan FPBJ di dalam persatuan meskipun pembangunan persatuan tersebut tidak selalu lurus tumbuh besar tapi diakui secara jujur persatuan tersebut juga patah tumbuh. Sama halnya dengan setiap perjuangan yang dilakukan tidak selalu lurus mencapai kemenangan sebagimana yang diharapkan tapi juga kadang tidak sesuai dengan harapan alias kalah. Demikianlah perjuangan sesungguuhnya sebuah proses menuju perbaikan hidup lebih baik, hidup sejahtera melawan sistem penghisapan manusia atas manusia dan di dalamnya terdapat sisi menang dan kalah tapi bagi setiap yang menginginkan penghapusan penghisapan hanya kemenangan yang diyakini.
Keadaan terus berubah dan berkembang, satu sisi kapitalisme sebagai sebuah sistem terus melakukan perluasan pasar, perluasan produksi, terus melakukan eksploitasi atas sumber daya alam dan sumber Daya Manusia (tenaga-tenaga produktif), terus melakukan akumulasi keuntungan sebesar-besarnya tanpa belas kasihan disetiap waktu dan disetiap tempat. Disisi yang lain negaa dengan segala perangkat kekuasaannya terus bekerja keras memperlancarkan berjalannya sirkulasi modal demi kesejahteraan, demi kebahagian para tuannya-para pengusaha. Negara tidaklah lebih sebuah alat yang berfungsi untuk melayani kepentingan-kepentingan umum kaum borjuasi/pengusaha/klas pemodal, sehingga mereka (pengusaha&penguasa) terus menghegemoni rakyat, mengilusi kesadaran rakyat untuk tetap mengamini kapitalisme sebagai jalan keluar menuju kemajuan bangsa, jalan keluar menuju kesejahteraan rakyat. Padahal pada faktanya sejak kelahiran hingga pada fase perkembangan terkininya kapitalisme terus menimbulkan kekacauan sosial ekonomi politik, terus menimbulkan penderitaan bagi rakyat singkat katanya sama sekali tidak menghilangkan penghisan, penindasan manusia atas manusia justru semakin terlihat jelas jurang antara si kaya dan si miskin-klas berpunya dan klas tidak berpunya.
Dan krisis kapitalisme hari inipun semakin memperjelas bukti bahwa kapitalisme sesungguhnya bukanlah jalan keluar kesejahteraan klas tidak berpunya (kaum miskin). Disamping itu juga krisis tersebut semakin memperjelas watak rezim borjuasi-legislatif, ekskutif dan yudikatif sibuk bekerja menyelamatkan krisis mulai dari pembentukan hukum hingga menggunakan perangkat kekerasan negara. Maka tidaklah heran dari pusat sampai diberbagai daerah terjadi perampasan tanah dengan cara kekerasan terhadap para petani miskin, terjadi kekerasan terhadap kaum buruh, terjadi korupsi, lahirnya kebijakan-kebijakan anti rakyat dsb.
Berdasarkan situasi obyektif tersebut dan situasi internal organisasi FPBJ yang juga mengalami perkembangan menjadi titik pijakan bagi organisasi untuk memajukan kuantitas dan kualitas organisasi. Bahwa meningkatkan kualitas perlawanan disemua sektor menjadi kebutuhan mendesak, jika tidak demikian maka sejengkalpun tidak merubah keadaan menghisap itu dan gerakan-gerakan tersebut akan jalan ditempat seperti gerak mekanik yang berulang-ulang.  



Dalam perjalanan nya Federasi Perjuangan Buruh jabodetabek (FPBI), di kongres yang ke dua pada tanggal 09-10 Oktober 2009 yang bertempat di Parung – Bogor ,pada Kongres kedua terpilih kawan Sopyandri dari PTP Unipak sebagai ketua umum dan kawan Damar Panca Mulya sebagi sekjen selain dari pada itu telah diputuskan secra bersama, dengan melihat perkembangan KAPITALISME semakin masif menindas kaum buruh di mana pun kita berada dan bekerja maka di putuskan untuk segera membangun federasi Nasional  (FEDNAS) dan ini menjadi tugas sejarah semua anggota FPBJ

Setelah Kongres II di Parung Bogor perkembangan organisasi semakin massif dalam melakukan pengorganisiran maupun aksi-aksi yang dilakukan untuk menolak liberalisasi di Indonesia, meskipun kita sama-sama mengetahui pada periode ini ketua umum kawan Sopyandri tidak begitu aktif menjalankan organisasi dikarenakan telah terjadi PHK di PT Unipak yang menurunkan semangat kawan-kawan didalamnya termasuk kawan Sopyandri.

Pada periode ini bukan saja penambahan anggota yang sangat signifikan diiringi kerja-kerja idologisasi pun sangat massif,hamper setiap mengadakan pendidikan tidak kurang dari 100 orang anggota terlibat setiap pelatihan tahaf satu ,sehinga kerja-kerja organisasi sangat terbantu oleh kawan-kawan di PTP baik dalam hal pengorganisiran maupun diskusi-diskusi.

Pada tahun 2011 menjadi catatan sejarah buat FPBJ organisasi yang baru tumbuh tapi sudah mampu memberikan warna gerakan buruh di Indonesia terutama di Bekasi, dengan membangun aliansi dengan Gesburi guna mengkonsolidasikan gagasan selain perjuangan normative buruh lewat KPGB (komite pendidikan gerakan buruh) walaupun pada akhirnya kedua organisasi ini tidak dapat dipersatukan.

Penambahan anggota dengan pendudukan pabrik sangat menginpirasi buruh disekitar pabrik untuk membangun serikat buruh dipabriknya, bahkan FPBJ mendapatkan efek domino dari kejadian tersebut, missal dengan melakukan pendudukan pabrik PT. Byungha Indonesia pada akhir 2011 sampai dengan awal 2012 hampir tidak pernah sepi kaum buruh untuk berdiskusi memecahkan persoalan dipabrik.

Masifnya perjuangan kaum buruh dalam mennutut hak-haknya diiringi juga dengan meningkatnya perlawanan pengusaha terhadap perjuangan kaum buruh, mereka tidak saja mengunakan kekuatan TNI/POLRI tapi juga mengunakan ormas-ormas dengan mengatasnamakan warga sekitar menyerang bahkan melukai buruh yang sedang berjuang.

Ditengah situasi yang sedang terjadi serangan balik oleh pengusaha terhadap kaum buruh yang sedang berjuang FPBJ punya agenda besar yaitu KONGRES ke III dengan tema Belajar, Berjuang, Berkuasa. maka pada tanggal 11- 13 Januari 2013 yang bertempat di Cibodas - Puncak dan dihadiri dari beberapa perwakilan daerah diantaranya; Medan, Surabaya, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Semarang dan Jogja bersepakat melakukan perubahan bentuk dan isian organisasi yaitu FPBJ berubah menjadi FPBI (Federasi Perjuangan Buruh Indonesia)  dan terpilih  Santoso widodo sebagai Ketua Umum dan John Oktavianus silaban sebagi Sekjen ).  Selain itu Kongres III FPBJ sudah mampu merumuskan beberapa hal diantaranya :
1.         Menetapkan Garis Politik FPBI :
§   anti kapitallisme
§   Berbasiskan pada gerakan massa
§   Memperjuangan sosial ekonomi politik massa
§   Tidak bersekutu dengan partai-partai borjuasi tapi bersatu dengan sekutu strategis dengan klas tertindas.
2.         AD/ART (Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga) FPBI termasuk di dalamnya terumuskan visi&misi.
A.  Visi :
1.    Mempersatukan dan memperjuangkan kepentingan ekonomi dan politik kaum buruh di indonesia untuk mencapai kesejahteraan dan menghadapi semua bentuk penindasan.
2.    Memperjuangkan kesejahteraan buruh dan keluarganya.
3.    Melindungi kepentingan kaum buruh dari sistem kapitalisme.
B.  Misi :
1.    Terlibat aktif dalam perjuangan kaum buruh melawan kekuatan anti buruh dan anti demokrasi.
2.    Aktif dalam kerja-kerja solidaritas untuk perubahan nasib kaum buruh.
3.    Memperjuangkan hak-hak ekonomi, politik, dan sosial kaum buruh.
4.    Mengkampanyekan dan memperjuangkan sistem kerja yang adil, bermartabat, serta menjunjung tinggi nilai-nilai HAM.
5.    Mengkampanyekan dan memperjuangkan serta melindungi hak-hak buruh perempuan.
6.    Membangun serikat-serikat buruh yang sesuai dengan azas dan sifat organisasi.
3.         Program-program umum yang meliputi; pertama program pendidikan seperti melakukan pelatihan-pelatihan hukum, teknik negosiasi, pelatihan advokasi dll. Kedua; Program-program perjuangan hak normatif  yang diatur dalam Undang-Undang ketenagakerjaan seperti upah, jamsostek, status kerja, PKB dll. Ketiga; Program organisasi seperti perluasan organisasi, Pembangunan persatuan, pembangunan ekonomi berjuang secara mandiri dll.
4.         Menetapkan struktur kepengurusan harian secara demokratis periode 2013-2015.

Bahwa terbentuknya FPBI merupakan dialektika sebagai kelanjutan dari gerak proses yang dilakukan Federasi Perjungan Buruh Jabodetabek. Gerak tersebut merupakan usaha-usaha membangun/membentuk gerakan buruh yang progresif revolusioner, gerakan buruh yang tidak hanya besar secara kuantitas tapi juga berkualitas secara isian, gerakan buruh yang tidak sekedar hanya menuntut hak-hak normatif perburuhan tapi juga gerakan yang berwatak politik, karena FPBI menyimpulkan pembebasan nasional dari cengkraman kapitalisme dan menuju kemerdekaan 100% klas buruh dan massa rakyat tertindas tidak akan pernah terwujud tanpa memperbesar kekuatan, tanpa persatuan gerakan rakyat dan tanpa kekuasaan klas buruh. Karenanya tugas sejarah gerakan buruh sesungguhnya adalah menghilangkan penghisapan manusia atas manusia.

Dalam kongres ke tiga menjadi bagian yang tidak terlupakan dalam sejarah pembangunan gerakan buruh yaitu telah disepakati oleh forum perubahan nama FPBJ menjadi FPBI karena kita sadar keanggotaan FPBJ sudah tersebar dibeberapa kota di Indonesia.
bersambung.....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar